SERBA-SERBI

 

Apa yang perlu kita ketahui tentang aids

Informasi umum penggunaan obat bebas

Kanker payudara

Kalium menggeser kalsium

Sekilas pandang tentang bedah plastik

Siklus parasit malaria

Ibnu sina (avicenna)

Insomnia dan rahasia tidur nyaman

Penyalahgunaan obat dan jenis-jenisnya

timbil

manipulasi genetika di belanda

bisul

Informasi dasar anthrax

bau badan

Jerawat

 

 

 

MANIPULASI GENETIKA DI BELANDA

 

Nasib Herman, demikian nama sapi Belanda hasil manipulasi genetika pertama, nampaknya dapat diselamatkan. Herman, si sapi jantan dan gemuk itu tidak jadi dibawa ke pejagalan. Perawatan Herman ini tidaklah murah karena menelan biaya 45.000 Euro per tahun. Biaya pemeliharaan yang begitu tinggi akan diambil alih oleh sebuah perusahaan asuransi pemakaman dengan syarat Herman dipakai untuk membuat iklan.

 

Musium Naturalis & Status Herman
Herman, sebagaimana rencana semula, diserahkan pada musium sejarah alam Naturalis, di kota Leiden. René Roberti, juru bicara pusat penabungan binatang ,Ravels, menerangkan, bahwa sapi Herman ini hanya bertujuan mencari perhatian. Sapi ini dibawa ke musium sejarah alam Naturalis. Musium banyak pengunjungnya. Jadi, tentu saja akan diketahui siapa yang mengadopsi sapi itu. Roberti menerangkan masih ada hal lain yang harus diperhatikan, yaitu bahwa Herman berstatus D1. Berarti, dia tidak boleh berhubungan dengan binatang lain.

Status ini merupakan perlindungan, dan D1 adalah perlindungan paling ketat yang juga berlaku bagi 2 sapi lain, yaitu Holly dan Belle, kedua adik Herman yang sekarang juga hidup terpisah dari binatang lain. Bagaimana nasib keduanya belum ditentukan. Sebetulnya, mengherankan, bukan, mengapa perusahaan asuransi sampai mengadopsi seekor sapi hasil manipulasi genetika?

Lambang Hidup
Nasib Herman memang cukup mengherankan. Sapi jantan pertama hasil manipulasi genetika di Belanda ini ramai dibicarakan. Padahal, konsumen di Belanda ternyata tidak suka dengan bahan-bahan pangan hasil manipulasi genetika. Jadi, Herman adalah sebuah lambang hidup pula.

Komisi Terlouw
Selama setahun masyarakat Belanda diberi waktu untuk berdebat mengenai bioteknologi. Namun, dari jumlah tanggapan, dapat disimpulkan bahwa tidak banyak orang Belanda yang memikirkan apa arti dan dampak manipulasi genetika, atau rekayasa genetika. Demikian, kesimpulan Komisi Terlouw yang memimpin Perdebatan Umum mengenai Bioteknologi dan Makanan. Selama beberapa waktu masyarakat Belanda dapat memberi tanggapan mengenai bioteknologi dan makanan melalui internet, melalui diskusi di berbagai perpustakaan, di sekolah-sekolah, dan melalui iklan di berbagai harian.

Pertanyaan Komisi Tidak Benar
Lsm-lsm lingkungan hidup di Belanda, antara lain Greenpeace dan juga organisasi kerja sama pembangunan seperti Novib, yang sedianya hendak ikut dalam perdebatan ini, mengurungkan niat mereka, karena berbeda pendapat mengenai pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh komisi Terlouw. Pertanyaan yang diajukan Komisi Terlouw misalnya: "Persyaratan apa yang harus dipenuhi oleh bioteknologi agar produknya bisa diterima oleh masyarakat?" Pertanyaan serupa ini, menurut lsm-lsm lingkungan tidak benar. Pertanyaannya seharusnya, "apakah kita mau menerima bioteknologi?" Atau "apakah kita bisa menerima penerapan rekayasa genetika?" Dari jawaban-jawaban berbagai kelompok masyarakat Belanda dapat disimpulkan bahwa kebanyakan tidak punya keberatan prinsip dan keberatan etis.

Apakah Etis?
Yang paling dirisaukan konsumen adalah resiko rekayasa genetika bagi kesehatan manusia; setelah itu apa dampaknya bagi lingkungan hidup? Hal ini ditentang oleh banyak organisasi lingkungan hidup yang mempertanyakan alasan yang lebih hakiki. Apakah etis kita melakukan rekayasa genetika untuk memproduksi makanan? Misalnya dengan bioteknologi, manusia bisa merekayasa genetika jagung yang tahan hama. Merekayasa genetika sapi, sehingga tidak akan terkena penyakit sapi gila (BSE). Bukankah harus dibalik pertanyaannya? Mengapa sapi menjadi gila? Karena diberi makanan yang terbuat dari sisa-sisa hewan, padahal sapi adalah pemakan rumput.

Kolonialisme Genetika
Berarti, bukannya manusia harus merekayasa genetika sapi melainkan tidak memberi makan pada sapi yang melawan kodratnya. Jadi singkatnya Komisi Terlouw ini menyimpulkan bahwa dengan persyaratan-persyaratan ketat maka masyarakat Belanda bersedia menerima penerapan manipulasi genetika untuk produksi pangan. Di samping itu, pada etiket produk itu harus jelas tercantum bahwa makanan itu mengandung bahan baku yang dibuat dengan rekayasa genetika. Dengan demikian, konsumen bisa menentukan sendiri, membelinya atau tidak. Ada segi lain yang tidak disertakan di dalam kesimpulan ini, yaitu bagaimana dengan negara-negara berkembang. Apakah mereka mau menerima bioteknologi? Bagaimana para petani di sana? Apakah mereka menjadi sangat tergantung dari teknologi ini? Bahkan sementara kalangan menyebut perkembangan ini sebagai kolonialisme genetika.

 

 

 

 

 

 

 

 

HOME | PALPASI DONG.. | ANATOMI FK 03 | INHAL | SUNTIK | KAGAPER