INFO KESEHATAN

 

Shalat tahajud vs Penyakit infeksi dan kanker

Ancaman kesehatan di balik kegemukan

Bukan karena baca sambil tiduran

Berhentilah merokok untuk selamanya....

Pengaruh posisi sujud terhadap aliran darah di otak

Vaksin aids dalam sayur

Flu burung pada manusia

Wortel rebus lebih baik

Sayuran dan buah bisa cegah kepikunan

Minamata, penyakit saraf...

Gizi buruk engancam anak Indonesia

Mendengarkan bahasa tubuh

Awet muda dengan cara alamiah

Multivitamin tingkatkan risiko asma dan alergi

Botol plastik, sate, mie instant

Bersihkan kuping

 

 

FLU BURUNG PADA MANUSIA

  Oleh: Tjandra Yoga Aditama Bagian Pulmonologi & Kedokteran Respirasi FKUI dan RS Persahabatan Jakarta

Berikut akan disampaikan gambaran terjadinya flu burung pada manusia: gejala, cara diagnosisnya, penanganan, dan pencegahannya. Data didapat dari pengalaman kasus di Hongkong. Dalam hal ini perlu ditegaskan bahwa sejauh ini jumlah kasus flu burung pada manusia masih relatif sedikit jumlahnya. Artinya, walau sejak 1997 kasus ini sudah dilaporkan mulai terjadi dan jutaan unggas yang mati, jumlah kasus pada manusia dalam hitungan puluhan orang. Masyarakat tidak perlu resah berlebihan, kendati memang perlu waspada dan mengikuti perkembangan yang ada.

Program penanggulangan telah dan sedang dilakukan oleh berbagai negara. Dari pengalaman tahun-tahun lalu, kasus flu burung dapat ditanggulangi. Tentu saja kita harus waspada, sebab bila program penanggulangan tidak berjalan baik, apalagi kalau terjadi mutasi dan timbul virus baru yang ganas dan mudah menular, masalahnya tentu akan jadi lebih serius lagi. Sejauh ini kita percaya upaya penanggulangan telah dilakukan secara optimal di berbagai negara yang terkena flu burung.

Sampai tahun 1997, flu burung hanya terjadi pada binatang saja. Baru pada 1997 ada laporan kasus flu burung H5N1 yang menyerang manusia di Hongkong dan menyebabkan 18 orang dirawat di rumah sakit serta 6 orang meninggal dunia. Jadi, kematian sekitar 30 persen.

Di tahun 1999 dilaporkan lagi dua kasus anak-anak di Hongkong yang terbukti terinfeksi flu burung H9N2. Keduanya sembuh dengan baik. Dalam tahun 1998-1999 dilaporkan beberapa kasus yang terinfeksi H9N2 dari daratan Cina. Kemudian di tahun 2003 dilaporkan pula dua kasus terinfeksi flu burung H5N1 dari orang yang baru pulang dari Cina. Satu kasus sembuh dan satu lagi meninggal dunia, artinya kematian 50 persen.

Pada tahun 2003 terjadi wabah influenza H7N7 di Belanda yang terjadi pada pekerja peternakan dan keluarganya. Lebih dari 80 orang terkena penyakit ini, yang relatif lebih ringan, dengan keluhan utama berupa infeksi mata dan sebagian gangguan pernapasan. Seorang dokter hewan meninggal pada wabah di Belanda ini. Masih di tahun 2003, juga dilaporkan satu kasus anak-anak di Hongkong yang tertular virus H9N2. Anak ini sempat dirawat di rumah sakit dan kemudian sembuh.

Pada sebagian besar kasus di atas dapat ditelusuri secara jelas bahwa mereka tertular dari unggas, umumnya di peternakan. Penularan memang pada dasarnya adalah dari unggas ke manusia. Hanya saja, menurut Pusat Kendali Penyakit (CDC) Amerika Serikat, kemungkinan adanya penularan dari orang ke orang dicurigai terjadi pada wabah H5N1 tahun 1997 di Hongkong dan H7N7 tahun 2003 di Belanda. Sementara itu, pada wabah yang terjadi sekarang ini, akibat virus influenza A H5N1, sampai saat ini tidak ditemukan bukti ilmiah adanya penularan antarmanusia. Tegasnya, pada keadaan sekarang ini virus flu burung belum menyebar dari orang ke orang.

Gejala flu burung pada dasarnya sama dengan flu biasa. Laporan dari kasus yang terjadi tahun 1999 menunjukkan adanya variasi gejala berupa demam sekitar 39 derajat Celsius, lemas, sakit tenggorokan, sakit kepala, tidak nafsu makan, muntah, nyeri perut, dan diare. Pengalaman tahun 1997 di Hongkong juga menunjukkan gejala yang sama: demam, batuk pilek, sakit tenggorokan, muntah, dan keluhan pusing.

Setelah mengenal gejala, biasanya akan dicari informasi mendalam tentang faktor risiko yang ada. Apakah yang bersangkutan bekerja di peternakan atau habis berkunjung ke pasar ayam dan lain-lain. Juga akan ditanya penyakit-penyakit lain yang mungkin akan memperburuk keadaan, seperti penyakit paru atau jantung, adanya riwayat alergi, dan sebagainya. Setelah itu dilakukan pemeriksaan fisik untuk melihat langsung keadaan pasien, dilanjutkan dengan pemeriksaan laboratorium dan juga rontgen dada untuk melihat ada tidaknya gambaran pneumonia.

Pemeriksaan laboratorium pada dasarnya dilakukan untuk menilai keadaan kesehatan pasien dan juga untuk mendeteksi bakteri/virus apa yang menyerang pasien tersebut. Pemeriksaan untuk menilai keadaan kesehatan antara lain dengan menilai kadar leukosit, fungsi hati, fungsi ginjal, dan yang penting juga analisis gas darah arteri.

Upaya menemukan virus flu burung dapat dilakukan dengan pemeriksaan serologi untuk menilai respons antigen antibodi dan atau mengisolasi virusnya sendiri. Pada kasus flu burung juga dapat dijumpai peningkatan titer netralisasi antibodi dan dapat pula dilakukan analisis antigenik dan genetik, antara lain untuk mengetahui apakah sudah ada mutasi dari virus tersebut.

Kedua pasien di Hongkong (tahun 1999) menjalani pemeriksaan ELISA (enzyme liknk immuno sorbent assay), cairan saluran hidung tenggorok. Ternyata positif influenza A. Pada kedua kasus ini juga dilakukan kultur pada cairan saluran hidung tenggorok yang menunjukkan positif influenza A (H9N2). Pada kasus yang terjadi di Hongkong (tahun 1997), diagnosis infeksi virus H5N1 dipastikan dengan ditemukannya virus. Lokasi diisolasinya virus ini ada pada usap tenggorok, cairan yang diisap dari trakea, aspirat saluran hidung tenggorok, dan ada pula virus yang ditemukan dari cairan bronko alveolar yang didapat dengan pemeriksaan bronkoskopi (memasukkan alat ini ke paru pasien).

Obat yang diberikan dapat bersifat simtomatik, sesuai dengan gejala yang ada. Bila batuk, pasien dapat diberi obat batuk; kalau sesak dapat diberi obat jenis bronkodilator untuk melebarkan saluran napas yang menyempit. Selain itu, dapat pula diberikan obat antivirus seperti amantadine dan oseltamivire. Kalau keadaan pasien terus memburuk, bukan tidak mungkin perlu dipasang alat ventilator untuk membantu pernapasannya.

Pencegahan

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, secara umum prinsip-prinsip kerja yang higienis-seperti mencuci tangan dan menggunakan alat pelindung diri-merupakan upaya yang harus dilakukan oleh mereka yang kontak dengan binatang, baik dalam keadaan mati, apalagi ketika hidup. Karena telur juga dapat tertular, maka penanganan kulit telur dan telur mentah perlu dapat perhatian pula.

Dapat disampaikan di sini: WHO menyatakan bahwa dengan memasak seperti yang biasa kita lakukan selama ini, virus akan mati. Ada anjuran yang mengatakan bahwa daging unggas ini harus dimasak sampai suhu 70C atau 80C selama sedikitnya satu menit. Kalau kita menggoreng atau merebus ayam di dapur, tentu lebih dari itu suhu dan lamanya memasak. Artinya, sejauh ini bukti ilmiah yang ada mengatakan bahwa aman mengonsumsi ayam dan unggas lainnya asal telah dimasak dengan baik

Khusus untuk pekerja peternakan dan pemotongan hewan ada beberapa anjuran WHO yang dapat dilakukan:

1. Semua orang yang kontak dengan binatang yang telah terinfeksi harus sering-sering mencuci tangan dengan sabun. Mereka yang langsung memegang dan membawa binatang yang sakit sebaiknya menggunakan desinfektan untuk membersihkan tangannya

2. Mereka yang memegang, membunuh, dan membawa atau memindahkan unggas yang sakit dan atau mati karena flu burung seyogianya melengkapi diri dengan baju pelindung, sarung tangan karet, masker, kacamata google, dan juga sepatu bot.

3. Ruangan kandang perlu selalu dibersihkan dengan prosedur yang baku dan memerhatikan faktor keamanan petugas.

4. Pekerja peternakan, pemotongan, dan keluarganya perlu diberi tahu untuk melaporkan ke petugas kesehatan bila mengidap gejala-gejala pernapasan, infeksi mata, dan gejala flu lainnya.

5. Dianjurkan juga agar petugas yang dicurigai punya potensi tertular ada dalam pengawasan petugas kesehatan secara ketat. Ada yang menganjurkan pemberian vaksin influenza, penyediaan obat antivirus, dan pengamatan perubahan secara serologi pada pekerja ini.

Sebagai penutup, sekali lagi perlu disampaikan kenyataan bahwa kendati sudah jutaan unggas yang terkena flu burung di akhir 2003 dan awal 2004-tentu orang yang kontak dengan unggas-unggas itu juga jumlahnya mungkin ribuan orang-tetapi jumlah kasus yang menimpa manusia dilaporkan relatif sedikit, mungkin baru belasan orang dan sementara ini terlokalisasi di Vietnam dan Thailand.

Hal ini perlu disampaikan agar masyarakat tidak perlu terlalu takut dan bahkan panik berlebihan. Pengalaman tahun-tahun yang lalu menunjukkan bahwa wabah flu burung, kendati memang dapat menular ke manusia, ternyata akhirnya tidaklah merebak luas pada manusia. Tentu kita berharap agar wabah kali ini juga akan dapat segera ditanggulangi dan masalah ini tidak terus meresahkan kita semua. Semoga!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HOME | PALPASI DONG.. | ANATOMI FK 03 | INHAL | SUNTIK | KAGAPER