INFO KESEHATAN

 

Shalat tahajud vs Penyakit infeksi dan kanker

Ancaman kesehatan di balik kegemukan

Bukan karena baca sambil tiduran

Berhentilah merokok untuk selamanya....

Pengaruh posisi sujud terhadap aliran darah di otak

Vaksin aids dalam sayur

Flu burung pada manusia

Wortel rebus lebih baik

Sayuran dan buah bisa cegah kepikunan

Minamata, penyakit saraf...

Gizi buruk engancam anak Indonesia

Mendengarkan bahasa tubuh

Awet muda dengan cara alamiah

Multivitamin tingkatkan risiko asma dan alergi

Botol plastik, sate, mie instant

Bersihkan kuping

 

 

MINAMATA, PENYAKIT SARAF DAN OTAK BUKAN PADA KULIT

  BANDUNG, (PR).-
Minamata bukan penyakit kulit, tetapi penyakit yang disebabkan memakan sesuatu yang telah tercemar air raksa (mercury) organik. Pada saat itulah zat pencemar yang masuk tubuh menyerang sarat dan otak. Akibatnya penderita mengalami gangguan mental dan jika menimpa ibu hamil akan merusak janin hingga akhirnya menyebabkan kematian.

Hal tersebut diungkapkan dr. Dede Gunawan, Sp.S(K), dari bagian penyakit sarat dari RS Hasan Sadikin, Selasa (27/7). Ia menyampaikan itu merespons tentang kasus pencemaran lingkungan di beberapa daerah di Jawa Barat, seperti Sungai Citarum, yang diduga tercemar mercury .

Menurut Dede, perlu dipahami, jika ada gejala penyakit kulit akibat pencemaran, itu bukan minamata. Minamata jauh lebih berbahaya dari penyakit kulit. Penyakit itu justru menyerang sarat dan otak. Penyebabnya karena akibat pencemaran dari air raksa yang kemudian berubah menjadi air raksa organik, lalu menyebar dalam air dan berinteraksi.

"Jika air raksa itu dimakan oleh ikan dan ikannya dimakan manusia, semakin lama racun itu menumpuk dalam tubuh manusia, lalu menyerang sarat dan otak, kemudian timbul penyakit yang disebut minamata," ujar Dede.

Menurut Dede, pencemaran logam berat arsen dan mercury kini di Indonesia sulit dikendalikan dan mungkin juga mencemari sungai-sungai wilayah Jawa Barat. Sedangkan penyakit minamata sendiri sebenarnya berasal dari nama suatu daerah di Jepang, di pantai barat Pulau Kyusu, yang bernama Minamata. Saat itu daerah tersebut mengalami tragedi akibat pencemaran air raksa atau mercury (Hydragyricum). Peristiwanya terjadi antara 1956-1960, mengakibatkan 3.000 penduduk meninggal karena mengonsumsi ikan yang tercemar.

"Di wilayah kita ini tidak menutup kemungkin akan terjadi penyakit minamata akan menyerang, walau di RSHS sampai saat ini belum ditemukan pasien-pasien yang terjangkit tersebut," kata Dede.

Jangka panjang

Ia mengungkapkan, reaksi akibat pencemaran mercury memang cukup panjang. Meski demikian, akan terjangkitnya penyakit minamata di daerah-daerah yang tercemar, kemungkinannya ada. Hanya hal itu memang perlu penelitian lebih jauh," katanya.

Menurut Dede, pencemaran baik itu dari pabrik-pabrik atau penambangan emas liar yang menggunakan bahan kimia air raksa, boleh jadi pada mulanya tidak membahayakan. Akan tetapi jika air raksa itu sudah berproses dalam air dan menjadi air raksa organik, lalu berubah menjadi ion-ion kemudian dimakan ikan, di situlah malapetaka akan terjadi.

"Persoalannya kini, aparat pemerintah harus memperketat peraturan soal pencemaran lingkungan. Jika itu terus dibiarkan, kita tinggal menunggu wabah minamata akan menimpa masyarakat kita sendiri," ungkapnya.(A-73)***

 

 

 

 

 

HOME | PALPASI DONG.. | ANATOMI FK 03 | INHAL | SUNTIK | KAGAPER