ILMU DASAR

 

The history of pharmacology

Masa depan farmakologi

Bahan kimia beracun

Pengobatan rasional

Terapi genetik

EBM (Evidence Based Medicine)

 

Orang yang tidak pernah membuat kekeliruan adalah orang yang tidak pernah melakukan apapun (Theodore Roosevelt)

BAHAN KIMIA BERACUN

PENDAHULUAN
Pengertian bahan kimia beracun didefinisikan sebagai bahan kimia yang dalam jumlah kecil menimbulkan keracunan pada manusia atau mahluk hidup lainnya. Umumnya zat-zat toksik masuk lewat pernapasan atau kulit, kemudian beredar ke seluruh tubuh atau ke organ-organ tertentu. Bahan kimia tersebut dapat langsung mengganggu organ-organ tubuh tertentu, seperti paru-paru, hati, dan lain-lain. Tetapi dapat pula zat-zat tersebut berakumulasi, tergantung pada sifatnya, ke dalam tulang, hati, darah atau cairan limpa dan organ lain sehingga akan menghasilkan efek dalam jangka panjang.

Di dalam industri perlu dipelajari suatu cabang ilmu khusus tentang efek bahan kimia beracun, yaitu toksikologi industri mempelajari racun-racun yang dipergunakan, diolah maupun dihasilkan oleh pabrik atau perusahaan. Dengan mempelajari toksikologi industri dapat dilakukan usaha-usaha pencegahan bagi tenaga kerja yang dalam kerjanya sehari-sehari menderita pemaparan bahan beracun. Usaha-usaha ini dapat dilakukan dengan cara mendesain proses kerja yang aman atau memakai alat pelindung diri.


BAHAN-BAHAN YANG DAPAT BERUPA RACUN
Bahan-bahan yang dapat menimbulkan racun dapat dibedakan:

o                                Chemical toxicants == bahan-bahan kimia umum

o                                Biological toxicants == racun yang dihasilkan oleh mahluk hidup ( misal serangga, ular, anjing, dan sebagainya )

o                                Bacterial toxicants == racun yang dihasilkan oleh jenis bakteri

o                                Botanical toxicants == racun yang dihasilkan oleh tumbuh-tumbuhan.

 

Dalam tulisan ini bahan racun yang dibahas adalah bahan yang termasuk dalam chemical toxicants, atau bahan kimia umum yang bersifat racun.
Bahan kimia umum yang sering menimbulkan keracunan adalah yang berikut. (1,2)

  • Golongan pestida, yaitu organo klorin, organo fosfat, karbamat, arsenik.

  • Golongan gas, yaitu Nitrogen (N2), Metana (CH4), Karbon Monoksida (CO), Hidrogen Sianida (HCN), Hidrogen Sulfida (H2S), Nikel Karbonil (Ni(CO)4), Sulfur Dioksida (SO2), Klor (Cl2), Nitrogen Oksida (N2O; NO; NO2), Fosgen (COCl2), Arsin (AsH3), Stibin (SbH3).

  • Golongan metalloid/logam, yaitu timbal (Pb), Posfor (P), air raksa (Hg), Arsen (As), Krom (Cr), Kadmium (Cd), nikel (Ni), Platina (Pt), Seng (Zn).

  • Golongan bahan organic, yaitu Akrilamida, Anilin, Benzena, Toluene, Xilena, Vinil Klorida, Karbon Disulfida, Metil Alkohol, Fenol, Stirena.

Dan masih banyak bahan kimia beracun lain yang dapat meracuni setiap saat, khususnya masyarakat pekerja industri.

TINGKAT EFEK RACUN TERHADAP BADANPengaruh efek racun terhadap badan dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat menentukan daya racun suatu bahan.
Pengaruh terhadap badan dipengaruhi oleh hal-hal berikut. (2)

1.        Sifat fisik bahan kimia, yang dapat berwujud gas, uap (gas dari bentuk padat/cair), debu (partikel padat), kabut (cairan halus di udara), fume (kondensasi partikel padat), awan (partikel cair kondensasi dari fase gas), asap (partikel zat karbon).

2.        Dosis beracun : jumlah/konsentrasi racun yang masuk dalam badan.

3.        Lamanya pemaparan.

4.        Sifat kimia zat racun : jenis persenyawaan; kelarutan dalam jaringan tubuh; jenis pelarut.

5.        Rute (jalan masuk ke badan), yang bisa lewat pernapasan (inhalasi), lewat pencernaan (ingestion), lewat kulit (skin absorption), lewat selaput lendir (membran mucosa absorption).

6.        Faktor-faktor pekerja, yang berupa umur, jenis kelamin, derajat kesehatan tubuh, daya tahan/toleransi, habituasi/kebiasaan, nutrisi, tingkat kelemahan tubuh, faktor generik.

KLASIFIKASI RACUNUntuk menentukan klasifikasi racun berdasarkan tingkat daya racunnya ditentukan dengan besarnya LD50 (Lethal Dose 50). LD50 adalah besarnya dosis racun yang diberikan kepada binatang percobaan yang mengakibatkan ˝ (50%) dari binatang tersebut mati. (2)
Berdasarkan LD50 klasifikasi racun dapat dibagi (mg/kg) sebagai berikut. (2)

• Tingkat I (Supertoxic)

 

>

1

• Tingkat II (Extremely oxic)

1

-

5

• Tingkat III (Highly toxic)

5

-

50

• Tingkat IV (Moderately toxic)

50

-

500

• Tingkat V (Slighly toxic)

500

-

5000

• Tingkat VI (Practically non toxic)

5000

-

15000


Dengan pengklasifikasian tersebut di atas dapat ditentukan tingkat racun/daya racun suatu bahan kimia.


PROSES FISIOLOGI
Bahan kimia yang masuk ke badan dapat mempengaruhi/mengganggu/merusak tubuh dan faal manusia sehingga dapat mengakibatkan terjadinya gangguan kesehatan atau keracunan, bahkan dapat menimbulkan kematian.

1.        Penyebaran racun ke dalam tubuhRacun masuk ke dalam tubuh melalui kulit atau selaput lendir/selaput epitel, misal pada jalan pencernaan, pernapasan atau mata. Kemudian melalui peredaran darah akhirnya dapat masuk ke organ-organ tubuh secara sistematik. Organ-organ tubuh yang biasanya terkena racun adalah paru-paru, hati (hepar), susunan saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang), sumsum tulang, ginjal, kulit, susunan saraf tepi, dan darah.
Bahan-bahan racun dalam industri biasanya bersifat mudah larut dalam lemak. Sehingga organ-organ tubuh yang berkadar lemak tinggi seperti otak, sumsum tulang, dan sumsum tulang belakang banyak dimasuki racun dan terjadi timbunan racun secara kronis (pelan-pelan).
Efek racun pada tubuh juga akan memberikan efek local seperti iritasi, reaksi alergi, dermatitis, ulcus, acne, dan gejala lain. Gejala-gejala keracunan sistematik juga tergantung pada organ tubuh yang terkena.

2.        Cara kerja racunRacun yang masuk ke tubuh akan meracuni dengan mekanisme kerja sebagai berikut :

o        Mempengaruhi kerja enzim/hormon. Enzim dan hormon terdiri dari protein komplek yang dalam kerjanya perlu adanya activator atau cofactor yang biasanya berupa vitamin. Bahan racun yang masuk ke dalam tubuh dapat menonaktifkan activator sehingga enzim atau hormon tidak dapat bekerja atau langsung non aktif.

o        Racun masuk dan bereaksi dengan sel sehingga akan menghambat atau mempengaruhi kerja sel, contohnya gas CO menghambat haemoglobin dalam mengikat atau membawa oksigen.

o        Merusak jaringan sehingga timbul histamine dan serotonine. Ini akan menimbulkan reaksi alergi; juga kadang-kadang akan terjadi senyawa baru yang lebih beracun.

3.        Fungsi detoksikasi hati (hepar)
Racun yang masuk ke tubuh akan mengalami proses detoksikasi (dinetralisasi) di dalam hati oleh fungsi hati (hepar). Senyawa racun ini akan diubah menjadi senyawa lain yang sifatnya tidak lagi beracun terhadap tubuh.

Jika jumlah racun yang masuk ke tubuh relatif kecil/sedikit dan fungsi detoksikasi hati (hepar) baik, dalam tubuh kita tidak akan terjadi gejala keracunan. Namun apabila racun yang masuk jumlahnya besar, dan fungsi detoksikasi hati (hepar) akan mengalami kerusakan.

Fungsi detoksikasi hati (hepar) dilakukan secara reaksi oksidasi, reaksi reduksi, reaksi hidrolisa, dan reaksi sintesis/konyugasi/metalisasi.

KESIMPULAN

  • Cabang ilmu toksikologi industri sangat penting dalam usaha-usaha pencegahan dan desain proses kerja yang aman dalam industri bahan kimia.

  • Pekerja yang berhubungan langsung dengan bahan kimia perlu menggunakan pakaian dan peralatan pengamanan.

  • Perlu pembekalan pengetahuan dalam pengelolaan bahan kimia beracun dari segi pengamanan, pengelolaan, penanggulangan kebakaran dan pertolongan pertama dalam kecelakaan.

KEPUSTAKAAN

1.        Proctor H. Nick; Hughes P. James, “Chemical Hazard of the Workplace Je. B. Lippicort Company” Philadelphia, Toronto.

2.        ILO (1991) “Fundamentals of Chemical Safety and Major Hazard Control”.

 

 

 

HOME | PALPASI DONG.. | ANATOMI FK 03 | INHAL | SUNTIK | KAGAPER